Meski banyak orang mencintai genre fantasy, mungkin ada di antara kita yang merasa genre ini terkesan rumit dan melelahkan. Banyak elemen dan detail dalam film fantasy yang bisa membuat penonton kecewa jika sedang mencari cerita yang lebih sederhana. Tapi, sebenarnya, fantasy itu luas banget! Banyak film yang tahu betul cara mengembangkan cerita mereka tanpa menjadikan elemen fantastis sebagai satu-satunya daya tarik. Di daftar ini, ada beberapa contoh keren yang membuktikannya.
Mungkin selama ini kamu berpikir bahwa fantasy bukan untukmu, atau kamu cuma mau menikmati pengalaman menonton tanpa semua dunia yang dibangun berlebihan. Nah, mungkin masalahnya hanya karena kamu belum menemukan film yang tepat.
5) Pan’s Labyrinth
Kalau kamu biasanya mengabaikan film fantasy atau mau ngerasain sesuatu yang beda, Pan’s Labyrinth mungkin jadi pilihan terbaik. Ceritanya ngga bikin nyaman atau menjauh dari kenyataan. Mengisahkan Ofelia (Ivana Baquero), yang pindah dengan ibu dan ayah tirinya, Kapten Vidal (Sergi López) yang kejam. Dalam konteks Spanyol setelah Perang Saudara, Ofelia menemukan labirin di mana faun memberitahunya bahwa dia adalah seorang putri yang hilang dan harus menyelesaikan tiga tugas. Karya Guillermo del Toro ini memenangkan Oscar untuk Skenario Asli Terbaik, dan layak ditonton setidaknya sekali seumur hidup.
Kalau kamu sudah familiar dengan gaya Del Toro, pasti tahu bahwa kisahnya berpindah antara dunia fantastis dan realitas brutal Ofelia. Ini jadi kekuatan utama film ini. Kita ngga perlu peduli sama faun atau putri untuk tertarik. Justru yang bikin kita terpikat adalah kontras antara imajinasi anak-anak dan dunia dewasa yang lebih menakutkan dari monster, karena itu nyata. Fantasy di sini bukan alasan utama untuk nonton Pan’s Labyrinth; itu hanya jadi cara cerdas untuk menyampaikan kisah soal kekerasan, masa kanak-kanak, dan bertahan hidup. Sebuah karya seni yang luar biasa.
4) The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring

Emang agak kontradiktif ya kalau ada The Lord of the Rings di daftar ini, padahal ini adalah puncaknya film fantasy. Kita ngobrol tentang Hobbits, Elf, Orc, penyihir, cincin ajaib, serta cerita yang butuh waktu berjam-jam untuk memahami dunia Middle-earth. Tapi semua itu dibangun dengan sangat cerdas. Cerita ini mudah dimengerti. The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring adalah awal dari trilogi, mengisahkan Frodo (Elijah Wood) yang bertanggung jawab membawa One Ring ke Mordor untuk menghancurkannya, sekaligus membentuk Fellowship bersama Aragorn (Viggo Mortensen), Legolas (Orlando Bloom), Gandalf (Ian McKellen), Gimli (John Rhys-Davies), dan Sam (Sean Astin).
Memang, karena ini adaptasi dari J.R.R. Tolkien, bisa bikin takut. Tapi, kamu nggak perlu hapal sejarah setiap kerajaan atau tahu siapa setiap makhluk untuk mengerti kenapa Frodo takut, atau mengapa Sam tak mau meninggalkannya. Ini adalah petualangan tentang persahabatan, keberanian, dan pengorbanan yang terjadi di salah satu universe fantastis paling rumit. Jujur, sulit banget nggak suka The Lord of the Rings ketika ada rasa petualangan yang sangat besar, dan elemen fantastisnya nggak jadi penghalang.
3) Stardust

Dari semua film di daftar ini, Stardust mungkin adalah film yang paling mungkin bikin seseorang yang ngga pernah peduli sama fantasy jadi sadar kalau mereka juga suka genre ini. Film ini seringkali diabaikan, tapi siapa yang nonton biasanya merekomendasikannya, karena ceritanya memang menyenangkan untuk diikuti. Mengisahkan Tristan (Charlie Cox), seorang pemuda yang berjanji untuk melintasi batas desanya demi mencari bintang jatuh untuk gadis yang dicintainya, hanya untuk menemukan bahwa bintang itu sebetulnya seorang wanita bernama Yvaine (Claire Danes), yang juga dikejar oleh penyihir dan pangeran dengan agenda masing-masing. Menarik banget, kan?
Stardust punya sihir, bajak laut, dan absurditas yang cukup, tapi inti filmnya adalah petualangan seru dengan romansa dan humor. Yang bikin film ini kuat adalah, kamu ngga perlu sepenuhnya percaya pada elemen fantasy untuk menikmati ceritanya. Kamu bisa mengikuti perkembangan karakter utama, mendukung romansa, tertawa melihat tingkah karakter, atau sekedar menikmati petualangan tanpa perlu khawatir akan semua elemen di sekitarnya. Semua itu hanya ada untuk membuat cerita jadi lebih menarik. Film ini nyaman, ringan, dan sangat menarik, dan cerita terus berkembang tanpa harus memahami aturan genre yang rumit.
2) Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl

Pirates of the Caribbean mungkin ngga terlihat seperti film fantasy, tapi kalau kamu nonton dari awal sampai akhir, kamu bakal sadar kalau ini lebih dari sekedar petualangan. Susah banget nyari orang yang ngga terpesona dengan saga ini, entah karena bajak lautnya, adegan tempur, soundtrack, atau Johnny Depp sebagai Jack Sparrow. Di awal Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, kita mengikuti pandai besi Will Turner (Orlando Bloom) yang bekerja sama dengan Jack untuk menyelamatkan Elizabeth Swann (Keira Knightley) yang diculik oleh Kapten Barbossa (Geoffrey Rush) dan krunya. Tapi ada satu masalah: Barbossa dan anak buahnya terjebak dalam kutukan yang bikin mereka berubah menjadi kerangka saat bulan purnama.
Film ini sebenarnya tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai fantasy, karena itu bukan fokus ceritanya. Kalau kamu hilangkan unsur supernatural, kamu tetap punya petualangan bajak laut yang sangat menyenangkan; kutukan itu hanya menambah lapisan pada plot, sambil menciptakan beberapa momen ikonik di seluruh warisan film ini. Mirip dengan Stardust, tapi The Curse of the Black Pearl mungkin jauh lebih mudah diakses dan bisa dinikmati oleh siapa saja. Ini salah satu keputusan terbaik Disney.
1) The Princess Bride

Film klasik emang ngga pernah mengecewakan, kan? Zaman sekarang kita nemuin banyak film fantasy yang ambisius dengan dunia yang absurd, berusaha jadi epik dan dipenuhi elemen genre yang sulit diucapkan. Di sisi lain, The Princess Bride bertentangan dengan semua itu, tetap sederhana dan tetap mengajarkan orang lain bagaimana cara melakukannya. Di sini kita bertemu Buttercup (Robin Wright) dan Westley (Cary Elwes), pasangan yang terpisah setelah Westley dianggap mati, hingga Buttercup terlibat dengan seorang pangeran dan serangkaian kejadian yang bikin mereka berhadapan dengan bajak laut, duel, penculikan, dan petualangan lain. Tapi, film ini ngga mau kamu terlalu serius menanggapi dunia yang diciptakannya.
Seluruh ide di balik film ini adalah bermain-main dengan klise dongeng sambil tetap memberikan romansa yang bikin kamu pengen lihat berhasil, plot yang terbangun rapi, dan karakter seperti Inigo Montoya (Mandy Patinkin) dan Fezzik (André the Giant) yang selalu mencuri perhatian. The Princess Bride punya keseimbangan dalam hampir semua aspek, dan itu juga yang bikin film ini tetap relevan hingga sekarang. Kamu mulai nonton karena romansa, komedi, atau adegan pertarungan, tapi sebelum kamu sadar, kamu udah terjebak karena semuanya terasa pas. Rasanya kayak jebakan: awalnya terasa seperti parodi dongeng, tapi kemudian kamu tersadar bahwa ini tetap fantasy, dan saat itulah kamu nyadar bahwa mungkin kamu jadi penggemar setelah semua.
Opini Kita
Bisa dibilang, film-film di atas jadi bukti bahwa fantasy bisa sangat menghibur tanpa harus bikin penonton merasa terbebani dengan dunia yang rumit. Kayak Pan’s Labyrinth dan Stardust berhasil mengangkat tema yang lebih mendalam, sedangkan The Princess Bride ngasih kita romansa dan humor yang pas. Harapan kita, film-film genre fantasy ke depannya bisa terus mengedukasi sembari menghibur tanpa kehilangan esensi yang bikin kita jatuh cinta sama cerita-cerita fantastis ini.

