Pada tahun 1700-an, filsuf Irlandia George Berkeley mengajukan pertanyaan menarik tentang apakah objek bisa ada secara independen dari persepsi manusia. Dari sini, muncul eksperimen pemikiran klasik: Jika sebuah pohon tumbang dan tidak ada yang mendengarnya, apakah masih menghasilkan suara? Pertanyaan ini diangkat dalam Couples Weekend, yang awalnya berjudul A Tree Fell in the Woods, dengan cara yang unik, menggunakan tindakan ketidaksetiaan sebagai pemicu drama hubungan yang tidak seimbang namun sering kali lucu dan reflektif.
Film ini mengisahkan Mitch dan Debs, yang diperankan oleh Josh Gad dan Alexandra Daddario. Mereka adalah sahabat seumur hidup yang pergi ke sebuah kabin terpencil bersama pasangan mereka untuk merayakan malam Tahun Baru. Mengacu pada metafora pohon, Mitch dan Debs hampir tertimpa pohon yang tumbang saat hiking pagi, dan ketika kembali ke kabin, mereka menemukan pasangan mereka, Josh (Daveed Diggs) dan Melanie (Ashley Park), sedang berdua di tempat tidur. Yang lebih buruk, badai salju hebat mengurung semua orang di dalam kabin, memaksa keempatnya untuk menghadapi ketidaksetiaan. Dalam prosesnya, mereka menemukan patahan lebih dalam dalam hubungan mereka, menunjukkan ketegangan yang telah membara dan kini muncul ke permukaan.
Walaupun premisnya terlihat serius, penulis dan sutradara Nora Kirkpatrick menjadikan Couples Weekend sebagai campuran genre. Film ini memiliki nada yang sedikit komedi yang cerah, jadi meskipun kabar buruk ini menyakitkan bagi Mitch dan Debs, cerita ini tetap disampaikan dengan selera humor. Skenario Kirkpatrick mengangkat humor canggung yang bisa muncul dari situasi seperti ini, yang, bersamaan dengan drama hubungan, menciptakan film menjanjikan yang berani menggoda perjalanan emosionalnya sendiri.
Awal yang Memikat dalam Couples Weekend
Mitch dan Debs awalnya sepakat untuk merahasiakan apa yang mereka lihat, tetapi kebenaran tentu saja terungkap. Dari sanalah, film ini didominasi oleh serangkaian percakapan emosional antara empat karakter. Di awal cerita, dialog-dialog ini sangat menarik, memungkinkan penonton menyaksikan dua hubungan yang hancur secara langsung sambil menggali motivasi di balik sebuah pengkhianatan. Kekuatan skenario ini sangat terlihat dengan dialog yang cepat dan tajam yang penuh humor.
Namun, seiring berjalannya cerita, percakapan-percakapan ini menjadi membosankan dan repetitif, dan karakter-karakter berputar-putar hingga film kehilangan momentum. Hanya di 20 menit terakhir, Couples Weekend bangkit dari keterpurukannya. Puncak cerita ini mengalihkan fokus dari humor untuk lebih mendalami tema-tema serius yang terkandung dalam kisah ini.
Ketidaksetiaan menjadi inti dari percakapan ini. Tetapi seiring berlanjutnya diskusi, film ini bahkan lebih dalam mengeksplorasi rasa kecewa, ketidakpuasan, dan bagaimana hubungan jangka panjang dapat perlahan-lahan merobohkan identitas seseorang. Para pemerannya berhasil menyeimbangkan tema-tema serius ini dengan humor, memberikan penampilan yang kuat secara individu, tetapi yang menjadi terasa adalah kurangnya chemistry antara karakter-karakter. Misalnya, Mitch dan Debs seharusnya menjadi sahabat seumur hidup, tetapi hubungan mereka tidak pernah terasa meyakinkan. Kedekatan emosional di antara mereka sering kali terasa dipaksakan, sehingga beberapa momen penting menjadi kurang organik.
Josh Gad Menjadi Sumber Komedi Utama Film Ini
Tetap saja, pujian layak diberikan kepada para aktor, khususnya Josh Gad yang bersinar sebagai sumber komedi utama dalam film ini. Ia memberikan energinya ke dalam karakter yang menjadikannya menghibur. Ia lebih mengandalkan lelucon tajam dan penyampaian yang tepat, formula yang berhasil mendapatkan banyak tawa terbaik dari Couples Weekend.
Namun, film ini tersandung tidak hanya karena sifat repetitifnya, tetapi juga sebuah elemen plot yang mengancam untuk merusak ketegangan antara karakter. Saat berusaha menjauh dari istrinya, Mitch menemukan sebotol minuman keras kuno yang tersembunyi di basement kabin. Menyeruputnya membuatnya terjerumus dalam pengalaman psychedelic yang berkepanjangan, dan yang lebih buruk lagi, ia membujuk yang lain untuk bergabung. Hal ini membuat keempat karakter terlibat dalam urutan mabuk yang sangat panjang dan menyiksa, yang menjauhkan film dari elemen terkuatnya: percakapan yang dekat dan mendalam.
Pada akhirnya, Couples Weekend menawarkan pandangan yang menyenangkan dan kadang-kadang mendalam tentang dampak dari ketidaksetiaan, tetapi terhambat oleh eksekusi yang tidak merata. Konsepnya kuat, berhasil menjadi campuran antara drama klasik dan elemen komedi, serta film ini seimbang antara drama hubungan dan humor yang tajam. Bagian terbaiknya datang dari percakapan yang tenang dan sering kali cerdas yang mengeksplorasi tema cinta, rasa kecewa, dan ketidaknyamanan emosional. Namun, kecenderungan untuk repetisi dan kurangnya chemistry meyakinkan antara Alexandra Daddario dan Josh Gad secara khusus menghalangi film ini untuk mencapai potensi terbaiknya.





