EPiC: Elvis Presley in Concert adalah dokumenter musik yang langka dan bikin penggemar ngerasa terhubung sama Elvis Presley. Kadang, cinta pada seorang artis itu tumbuh setelah melihat penampilan mereka secara langsung, meski penampilan itu sudah melalui rekaman lama dan speaker IMAX yang gede! Selama ini, Elvis dikenal sebagai ikon budaya, tapi karya Baz Luhrmann yang unik ini bikin musiknya terasa lebih dekat secara emosional. Ini bukan sekedar rekaman hit terbesar atau pajangan di museum, tapi sebuah pengalaman yang mengguncang dan membuat kita terhanyut dalam apa yang bikin Elvis jadi salah satu performer paling electrifying sepanjang masa.
Mulai dari pembuka yang menggema, EPiC memahami bahwa kekuatan Elvis bukan cuma ada di suaranya, tapi juga di cara musiknya bergema di seluruh ruangan. Begitu drum Ronnie Tutt yang menghentak di lagu “See See Rider” muncul, film ini langsung meledak dalam euforia musik yang murni. Suaranya kencang, bersemangat, dan hidup dalam cara yang bikin presentasi ini terasa sangat mengagumkan. Ini adalah film konser yang seolah menghidupkan kembali Elvis, bukan sebagai mitos, tapi sebagai musisi yang penuh tenaga, humor, dan kegembiraan.
The Gospel According to Elvis Presley
Salah satu kekuatan terbesar EPiC adalah penekanan yang konsisten pada dasar gospel dan blues dari Raja Rock ’n’ Roll. Ini bukan sekadar isu yang diangkat atau trivia; ini adalah tulang punggung pengalaman keseluruhan. Para musisi yang pernah bermain bersamanya berbicara dengan hormat tentang cintanya yang mendalam terhadap musik gospel, dan semakin jelas bagaimana Elvis secara sengaja dikelilingi oleh pemain yang memiliki latar belakang serupa. Kita bisa mendengar ini dalam pengaturan lagu, energi call-and-response, serta cara penampilannya yang lebih terasa seperti pelepasan bersama daripada sekadar pertunjukan biasa.
Rekaman konsernya sendiri adalah sebuah harta karun bagi penggemar Elvis sejati, penuh dengan materi yang belum pernah dirilis dan direkam dengan kejernihan yang hampir surreal. Penulis-sutradara Baz Luhrmann, yang dikenal lewat Romeo + Juliet (1996), Moulin Rouge! (2001), dan The Great Gatsby (2013), awalnya mencari rekaman tak terpakai dari dokumenter 1970 Elvis: That’s the Way It Is dan film konser 1972 Elvis on Tour. Dengan bantuan arsip Warner Bros., ia menemukan 68 kotak berisi rekaman hilang, baik dalam format 35mm maupun 8mm, yang terpendam dalam tambang garam di Kansas selama 50 tahun.
Rekaman yang Dikembalikan dengan Menakjubkan
Sekarang, berkat tim editing Baz Luhrmann, kita bisa melihat Elvis Presley perform “Burning Love” secara langsung untuk pertama kalinya, dengan lirik yang tertulis di kertas di tangannya. Ini menjadi salah satu restorasi musik paling mencolok dalam film ini, menghilangkan kesan klasik dan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih menarik. EPiC memberi kita kesempatan langka untuk melihat Elvis sebagai seorang artis yang masih bereksperimen, masih mengejar euforia terhubung dengan penontonnya.
Sebuah penampilan indah dari “Never Been to Spain” dibuka dengan interlude lucu tentang Colonels Tom Parker dan praktik bisnisnya yang licik namun mendominasi. Namun, cara Luhrmann membingkai lagu ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan terbesar Elvis dan penyesalan terbesarnya adalah kegagalan untuk pernah tampil di luar Amerika Serikat. Editing Jonathan Redmond terasa sangat harmonis di lagu-lagu klasik seperti “Hound Dog” dan “That’s All Right”, dengan transisi mulus antara penampilan dengan gerakan yang sama namun mengenakan outfit yang berbeda dari berbagai pertunjukan Vegas-nya.

Lalu ada lagu “Polk Salad Annie,” yang jadi lagu penutup yang nggak bisa dilupakan. Ini kasar, funky, dan liar — Elvis berada di puncak performanya, merasakan alunan musik seolah bisa menjatuhkannya kapan saja. Momen-momen seperti ini memperkuat argumen inti EPiC tanpa mengatakannya secara langsung. Elvis bukan sekedar simbol atau bintang; dia adalah musisi sejati yang terus berkomunikasi dengan band dan pengaruhnya.
The Man, the Myth, and the Missed Opportunities
Di sisi lain, EPiC kadang terlihat tersandung dalam pembingkaian quasi-dokumenternya. Film ini, tanpa diragukan lagi, adalah gambaran yang disempurnakan dari kehidupan Elvis Presley, yang menghaluskan tepi-tepi kasar dan menghindari perenungan yang lebih dalam. Pilihan ini mungkin lebih mudah dimaklumi jika keseluruhan proyek sepenuhnya berkomitmen sebagai film konser murni. Namun, interludes dokumenter terlihat agak memaksa, menyajikan informasi yang sudah dikenal atau tidak diperlukan, dan mengganggu momentum yang diciptakan oleh pertunjukan.
Akan tetapi, ada juga momen-momen cemerlang dalam saat-saat tenang ini. Rekaman di balik layar menangkap Elvis yang lucu, menawan, dan hangat dengan band dan kru-nya. Pertukaran candid ini manusiawi-kan dia jauh lebih efektif dibandingkan ringkasan biografi atau tur sejarah apa pun. Di momen-momen singkat ketika dia bercanda dan terhubung dengan musisinya, kita melihat versi Elvis yang paling mendekati sosok panggung yang dilihat di bawah lampu.

Penggemar biopik Elvis karya Baz Luhrmann dengan Austin Butler (Caught Stealing, Dune: Part Two) pasti akan mengenali filosofi yang sama. Mirip dengan film itu, EPiC mengutamakan musikalitas, pertunjukan, dan garis keturunan gospel-blues Elvis di atas sensasi tabloid. Ini adalah perspektif yang sangat dihargai, meski mengorbankan kompleksitas. EPiC jelas tidak tertarik untuk mempertanyakan Elvis, dan tidak ada niatan untuk itu. Ini adalah perayaan dirinya sebagai performer, dan ketika film ini memuncak, perayaan itu jelas terasa sangat kuat.
Long Live the King (In IMAX)
Ini adalah Elvis sebagai bintang yang tak tertandingi — memikat, rentan, ceria, dan transenden — ditangkap dengan cara yang terasa lebih seperti perjalanan waktu daripada nostalgia. Yang terpenting, EPiC bikin pengen nonton lagi, preferably dengan volume sekeras mungkin dan layar sebesar mungkin. Di IMAX, dengan ketukan drum yang mengguncang dadamu dan Elvis mengisi layar dengan gerakannya, film ini menjadi apa yang selalu ingin jadi: bukan sekadar pelajaran sejarah, tapi pengalaman yang nyata. Ini adalah pengingat mengapa penampilan langsung itu penting, mengapa musik bertahan, dan mengapa Elvis Presley tetap, puluhan tahun kemudian, benar-benar tak terbendung dan tak tertandingi.
EPiC: Elvis Presley in Concert akan dirilis eksklusif di IMAX pada tanggal 20 Februari, kemudian diperluas ke seluruh negeri pada 27 Februari!
Tanggal Rilis: 20 Februari 2026.
Disutradarai oleh: Baz Luhrmann.
Diproduksi oleh: Baz Luhrmann, Schuyler Weiss, Jeremy Castro, Matthew Gross, & Colin Smeeton.
Produser Eksekutif: Tom Mackay, Catherine Martin, Jonathan Redmond, Richard Story, & Krista Wegener.
Komposer: Elliott Wheeler.
Diedit oleh: Jonathan Redmond.
Perusahaan Produksi: Sony Music Vision, Bazmark Films, & Authentic Studios.
Distributor: Neon (Amerika Serikat) & Universal Pictures (Internasional).
Durasi: 96 menit.
Rating: PG-13.






