Square Enix, salah satu nama besar dalam dunia game, terkenal dengan seri Final Fantasy yang sudah menjadi ikonik. Setelah mengalami merger pada tahun 2003, fokus perusahaan ini sebagian besar pada cerita baru seperti The Adventures of Elliot dan pengembangan ulang konsep lawas seperti trilogi Final Fantasy VII Remake. Namun, sejarah perusahaan ini jauh lebih kaya akan cerita di luar tawaran terkenal mereka.
Salah satu judul yang menarik perhatian adalah Alpha, sebuah petualangan sci-fi berbasis teks yang dirilis 40 tahun lalu, eksklusif di Jepang. Game ini bisa dianggap sebagai salah satu contoh awal dari apa yang kini kita kenal sebagai Visual Novel. Meskipun usianya sudah cukup tua, narasi yang berliku, dilema moral yang tricky, dan elemen eksploitasi erotis membuat Alpha berbeda dari game lain di masanya. Ini adalah salah satu judul teraneh yang pernah dikeluarkan Square, dan mungkin saatnya untuk mengkaji ulang dan bahkan menghidupkan kembali properti ini.
Alpha: Sci-Fi Unik yang Masih Menarik Setelah 40 Tahun
Dirilis di Jepang pada awal Juli 1986, Alpha adalah salah satu kontribusi paling aneh dalam warisan Square yang cemerlang. Game ini dirilis untuk PC yang tersedia secara komersil di Jepang dan bisa dianggap sebagai contoh awal dari genre Visual Novel. Mengikuti kesuksesan dari game pertama Square, The Death Trap, tim pengembang Alpha mengambil inspirasi dari pendekatan pengembangan plot game tersebut.
Mekanisme utama game ini masih mencakup parser teks, di mana pemain membuat keputusan untuk sang protagonis, seorang wanita muda amnesia bernama Chris, dengan tambahan komponen visual. Layar dibagi dua; bagian bawah untuk dialog dan perintah pemain, sementara bagian atas menyajikan cerita melalui cuplikan animasi singkat dan musik. Game ini juga berani mengeksplorasi konten yang lebih dewasa, memulai sebagai petualangan sci-fi standar namun perlahan berkembang menjadi cerita yang lebih kompleks dan ambigu dengan banyak elemen ketelanjangan.
Memang, ada beberapa elemen dalam game ini yang terasa usang, termasuk adegan di mana Chris terjebak dan terikat. Namun, aspek-aspek naratif tertentu tetap menarik, dengan mengambil petunjuk naratif yang akan dieksplorasi kembali oleh NieR: Automata beberapa dekade kemudian. Kombinasi antara sci-fi yang ambisius dan nuansa eksploitasi adalah sesuatu yang bisa jadi unik di pasar saat ini, meskipun merupakan cerita yang dewasa untuk masanya. Game ini juga menjadi bagian menarik dalam sejarah game, karena menjadi contoh awal visual novel yang makin populer di abad ke-21, terutama berkat franchise seperti Phoenix Wright dan game Doki Doki Literature Club.
Square Perlu Menghidupkan Kembali Salah Satu Judul Terlama Mereka
Alpha adalah game yang sepertinya sudah sangat layak untuk dikaji ulang dan dihidupkan kembali. Setting sci-fi, di mana seorang wanita muda terjebak antara masyarakat yang runtuh dan pemberontakan yang kejam, bisa menjadi latar yang sempurna untuk action-RPG. Narasi bisa mengambil inspirasi modern dan disesuaikan sambil mempertahankan nada eksploitasi dan gaya anime klasik. Game ini bahkan dapat tetap sebagai visual novel, menekankan koneksi tenang ke genre yang kini semakin populer.
Sebuah versi modern dari Alpha bisa memanfaatkan kemajuan dalam teknik pengembangan game, serta bagaimana genre sci-fi kini lebih ambisius secara moral dan kreatif. Skala dunia Chris bisa lebih hidup dengan grafis yang realistis, sekaligus tetap menyimpan sentuhan gaya yang mengingatkan kita pada ledakan anime awal 1980-an. Dilema moral dalam narasinya, di mana pemberontak dan pihak berwenang sama-sama digambarkan sebagai kekuatan berbahaya yang harus dihadapi Chris, bisa menjadi setup yang hebat untuk storytelling kompleks yang selama ini menjadi ciri khas Square Enix di era modern. Versi baru dari Alpha bisa menantang, tricky, dan menemukan cara untuk menggabungkan elemen gaya yang berlebihan dengan penggambaran karakter yang lebih menyeluruh.
Setelah 40 tahun, Alpha menjadi contoh awal bagaimana gaming bisa jadi cara menarik untuk menyampaikan narasi, dengan tingkat kesulitan yang bahkan tidak dicoba oleh kebanyakan Visual Novel modern. Dengan warisan Square dan pentingnya mereka dalam budaya gaming yang lebih luas, sangat wajar jika mereka menghormati sejarah mereka dengan kembali ke beberapa judul awal. Tentu saja, ini juga bisa jadi kesempatan seru untuk menghidupkan kembali IP yang sudah lama mati dan memberikannya pembaruan abad ke-21, sembari membuka pintu untuk franchise baru yang mengeksplorasi petualangan Chris lebih dalam. Alpha adalah catatan kecil yang aneh dalam sejarah Square yang, dengan reimagining yang tepat, bisa jadi pemain utama di masa depan penerbit ini.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Kayaknya bakal seru banget kalau Square Enix bisa menghidupkan kembali Alpha dengan pembaruan yang sesuai zaman. Dengan elemen narasi yang kompleks dan grafik modern, bisa jadi ini jadi salah satu permainan yang nggak cuma nostalgia, tapi juga relevan di dunia gaming sekarang. Semoga aja mereka nggak ragu untuk mengekplorasi kembali cerita menarik ini!





