Tahun 2026 sepertinya menjadi era bagi headset gaming open-back. Setelah lama tidak ada inovasi di sektor ini (kecuali Corsair Virtuoso Pro), sekarang kita melihat kebangkitan kembali produk-produk yang memang terbilang niche ini, dan saya sangat mendukungnya. Pertama, Asus meluncurkan ROG Kithara yang merupakan hasil kolaborasi dengan Hifiman. Headset ini memiliki driver planar magnet yang super besar dengan sertifikasi audiophile, tetapi dengan harga yang membuat dompet bisa bergetar: sekitar $300 atau £285. Meskipun banyak yang suka, beberapa pengguna mengeluhkan kurangnya fitur-fitur dasar seperti kontrol fisik dan perangkat lunak.
Kini, giliran Sony dengan Inzone H6 Air yang ringan dan nyaman, dan yang jadi nilai plus, harganya jatuh sekitar $100 atau £100 lebih murah dibandingkan produk Asus. Meskipun harga $200 atau £180 masih terbilang mahal untuk headset dengan koneksi kabel, banyak alternatif nirkabel seperti Beyerdynamic MMX 150 dan Logitech G522 Lightspeed yang menawarkan fitur lebih. Namun, apakah teknologi dan kualitas suara dari H6 Air bisa menandingi pesaingnya? Itu masih jadi pertanyaan besar.
Hal pertama yang menarik perhatian saat memakai Inzone H6 Air adalah betapa ringannya headset ini. Dengan bobot hanya 199 gram (tanpa mikrofon tambahan), terasa hampir seperti tidak memakainya sama sekali. Desainnya yang tidak terlalu futuristik juga membuatnya aman untuk dipakai dalam video call tanpa mendapatkan tatapan aneh. Hanya saja, klip yang digunakan terasa lembut, sehingga kadang terlihat lebih seperti sedang bersandar ketimbang terjepit dengan pas.
Di luar itu, headset ini terlihat modern dengan kombinasi bodi metal dan plastik kokoh. Sayangnya, tidak ada tas untuk membawanya, padahal dia bisa dilipat. Kenyamanan adalah hal penting, dan Inzone H6 Air cukup unggul dengan desain yang tidak membuat telinga cepat lelah meski digunakan dalam waktu lama. Namun, bagi yang lebih suka fitting yang ketat, biasanya bisa disiasati dengan menyesuaikan headbandnya dengan benar.
Salah satu keunggulan lain adalah fitur kontrol onboard. Meski hanya ada dua, yaitu tombol mute mikrofon dan roda volume, fitur ini tetap jadi nilai lebih dibanding headset lainnya. Koneksi cable-nya menggunakan jack 3.5mm dan juga dilengkapi dengan DAC USB-C yang membuka kompatibilitas dengan PlayStation dan Windows—ini merupakan langkah cerdas dari Sony, jauh lebih baik daripada Kithara yang tidak punya software pengaturan.
Berbicara tentang suara, Inzone H6 Air memang tercipta untuk memanjakan telinga. Menggunakan driver 40mm yang diambil dari headphone studio MDR-MV1, suara yang dihasilkan cukup berimbang. Meskipun ini adalah headset open-back, seharusnya memberikan ruang suara yang lebih lebar. Sayangnya, audio seepage adalah risiko yang harus dihadapi, jadi pastikan lingkungan sekitarmu cocok.
Saya menemukan kualitas rendah yang kencang dan respons bass yang mengagumkan, bahkan di track musik rock seperti “Invisible Man” dari Marillion atau “Luminol” dari Steven Wilson. Dalam gaming, suara langkah dan dialog di *Counter-Strike 2* terasa jelas, menjadikannya headset yang cocok untuk permainan kompetitif.
Intinya, saya sangat menyukai cara kerja Inzone H6 Air. Suaranya enak didengar, bass-nya mantap, ditambah mid-range yang kaya. Bagi para gamer, kehadiran fitur seperti EQ preset dan pengaturan suara spasial adalah tambahan yang berharga. Jika kamu ingin headset yang benar-benar nyaman dengan performa suara yang seimbang, ini bisa jadi pilihan yang sangat menarik.
Wajib Dinanti Nggak Nih?
Secara keseluruhan, Inzone H6 Air harusnya bisa menjadi salah satu headset gaming terfavorit di tahun-tahun mendatang, terutama buat yang lebih memilih desain modern tanpa mengorbankan kualitas audio. Semoga aja Sony bisa terus menjaga kualitas dan inovasi, sambil mendengarkan feedback pengguna. Dengan semua fitur yang ditawarkan, harganya sepertinya layak bagi penggemar game yang serius!





