StarCraft selalu identik dengan genre real-time strategy, tapi BlizzCon 2026 bikin kita terkejut dengan pengumuman reboot StarCraft yang bakal hadir di tahun 2030. Kali ini, kita nggak lagi berhadapan dengan pasukan rival dalam gameplay klasik. Sebagai gantinya, pemain akan memerankan karakter individu di dalam dunia terbuka yang berkonsep third-person shooter, dengan narasi yang lebih mendalam dan modern. Ini jelas akan menjadi pembaruan yang menarik untuk seri StarCraft, memperlihatkan bagaimana franchise bisa menawarkan sudut pandang baru yang lebih fresh daripada yang biasa kita lihat.
Strategi ini ternyata bukan hanya untuk StarCraft milik Blizzard, karena beberapa seri game lain juga berhasil melanjutkan kesuksesan dengan menjelajah genre berbeda. Apakah itu spin-off atau arahan baru, beberapa judul telah berhasil menarik perhatian baik pemain baru maupun lama dengan inovasi yang terasa segar. Contohnya, peralihan Final Fantasy 7 Remake ke aksi real-time, perubahan Halo menjadi RTS dalam Halo Wars, atau Fallout 3 yang bertransformasi menjadi RPG dunia terbuka daripada CRPG top-down, semuanya turut membuat seri-seri ini terasa lebih menarik melalui evolusi dan variasi mereka.
4. Halo – RPG
Seri Halo saat ini juga sedang bereksperimen dengan reboot, seperti Halo: Campaign Evolved, yang merupakan remake modern dari awal perjalanan franchise ini, meski hasilnya agak bercampur. Sementara Halo Infinite dan Campaign Evolved sudah berusaha memenuhi ekspektasi pemain, seri ini sebelumnya lebih berani untuk melakukan spin-off dari permainan utamanya. Jika studio di balik Halo ingin terus menggali masa lalu, mungkin game di mana pemain bisa lebih merasakan dunia akan menjadi pilihan terbaik, mirip dengan konsep StarCraft yang baru.
Bayangkan jika ada RPG mirip Fallout: New Vegas yang ber-setting di dunia Halo, di mana pemain bisa mengkostumisasi Spartan atau prajurit manusia lainnya. Atau bahkan pemain bisa menciptakan Sangheili, atau Elite, di era ketika mereka bertempur melawan manusia atau berali setelah peristiwa Halo 3. Tipe permainan ini bisa berlangsung di berbagai titik dalam timeline Halo, dengan cerita orisinal yang memberikan lebih banyak kontrol kreatif kepada pemain.
Alih-alih kampanye FPS yang linear, cerita RPG Halo bisa berputar pada seorang prajurit yang harus merekrut sekutu, mungkin dari kedua sisi konflik Covenant vs Manusia, untuk menghentikan ancaman yang lebih besar. Flood, yang selalu menjadi musuh, bisa menjadi penyatu berbagai pihak, tetapi mungkin elemen RPG hanya muncul dalam karakter individu yang pemain kendalikan. Unsur-unsur dari Cyberpunk 2077, Star Wars: Knights of the Old Republic, atau franchise Deus Ex bisa menginspirasi arah baru ini untuk Halo.
3. Splinter Cell – First-Person Shooter (FPS)

Action stealth dari franchise Splinter Cell sudah sangat dicintai oleh banyak orang, dan seri ini sering ada di daftar teratas untuk “franchise yang perlu kembali.” Namun, melihat kepopuleran game Hitman terbaru dan kesuksesan 007 First Light, mungkin lebih baik jika Splinter Cell menjelajah konsep baru. Salah satu cara Splinter Cell bisa kembali adalah lewat first-person shooter, sambil tetap mempertahankan elemen stealth-nya.
Bayangkan gameplay dengan perspektif first-person, di mana pemain bisa lebih merasakan suasana gelap menggunakan night vision Splinter Cell. Game klasik seperti Thief memanfaatkan perspektif ini untuk menarik perhatian pemain pada lingkungan sekitar, yang juga akan sangat cocok untuk misi taktis dari Splinter Cell. Meskipun beberapa pemain mungkin berpendapat game-game seperti Rainbow Six Siege sudah cukup untuk mengisi pasar FPS Tom Clancy, memberikan Splinter Cell jalan baru jelas bisa membantu franchise ini menonjol.
Untuk membuat game seperti ini berhasil, AI musuh harus ditingkatkan, dengan lebih banyak mekanik taktis yang membantu pemain. Ini mungkin membuat Splinter Cell terasa lebih otentik dengan premisnya daripada sebelumnya, dengan batasan aksi di sudut pandang ketiga yang kadang menjadikan permainan lebih terasa “aksi” daripada “stealth.” Gerakan yang lebih lambat dan desain level yang lebih kecil juga akan membantu FPS Splinter Cell berkembang, terutama jika mempertahankan desain level yang linear dari akar franchise-nya.
2. BioShock – Metroidvania

Seri BioShock kemungkinan bakal mendapat reboot dalam beberapa tahun ke depan, tapi selama menunggu itu, spin-off bisa jadi alternatif menarik. Meskipun banyak yang menginginkan FPS dengan elemen RPG, dunia yang dibangun dalam BioShock bisa berfungsi dengan baik dalam genre yang mendorong eksplorasi, seperti Metroidvania. Bayangkan dunia bawah laut Rapture, atau bahkan metropolis tinggi BioShock Infinite, dalam game samping yang luas dan multilapis—ini bisa jadi cara yang menarik untuk membawa seri ini ke arah baru.
Game Metroidvania BioShock juga bisa memperkenalkan dunia baru bagi pemain, membiarkan mereka menjelajahi lokasi yang sama sekali tidak ada referensinya untuk pengalaman yang fresh. Beberapa fitur utama seri, seperti kekuatan pengubah DNA, dapat mudah diintegrasikan dalam eksplorasi untuk membuka jalur progresi baru. Selain itu, game ini dapat melakukan hal yang sama seperti Metroidvania lain, seperti Castlevania: Belmont’s Curse, dengan memberi pemain pilihan “loadouts” yang beragam.
Paduan antara Metroidvania dengan elemen FPS akan memberikan nuansa baru, sementara tetap mempertahankan identitas BioShock. Dengan popularitas game seperti Hollow Knight: Silksong dan judul-judul mendatang seperti Metroid Ravenous, genre Metroidvania sedang naik daun, apalagi jika settingnya menarik. Dengan lokasi yang luar biasa menarik, perjalanan antara berbagai “ruangan” atau biome dalam BioShock jelas tidak akan membuat pemain merasa bosan. Mengingat ada seri lain yang berhasil menjelajahi genre ini, seperti The Prince of Persia, mungkin BioShock juga bisa sukses dengan pendekatan Metroidvania.
1. Dino Crisis – Over-the-Shoulder Third-Person Shooter

Salah satu seri survival horror yang paling underrated adalah Dino Crisis, game dari Capcom di mana pemain berhadapan dengan dinosaurus sembari mencari sumber daya. Game ini sudah lama ditunggu untuk di-reboot, tetapi sudut pandang kamera tetap menjadi ciri khas dari era survival horror yang membangun filosofi yang sama seperti Resident Evil. Sama seperti franchise Capcom lainnya yang berevolusi, Dino Crisis juga bisa semakin kuat jika mengikuti jejak Resident Evil 4.
Game ini mengubah sudut pandang kamera statis menjadi gaya over-the-shoulder dengan aksi third-person yang lebih dekat dan pribadi. Ini jelas sangat cocok untuk Dino Crisis, mengingat ukuran dan skala dinosaurus dalam permainan yang akan lebih terasa intim dalam mode ini. Game-game seperti Tomb Raider: Legacy of Atlantis (yang juga di-reboot) sudah menunjukkan betapa menakutkannya menghadapi ancaman prasejarah, bahkan saat sudah dipersenjatai dengan baik. Meningkatkan nuansa unik horor Dino Crisis tentu jadi alasan kuat untuk mengubah genre-nya.
Hubungan dengan Resident Evil juga bisa diperkuat ketika kita melihat bagaimana remake-remake dari seri tersebut menarik penonton baru. Sejak Resident Evil 2 Remake, perubahan ke kamera over-the-shoulder mirip dengan RE4 membuat seri ini semakin berkembang, jauh lebih sukses dibandingkan pendekatan FPS pada beberapa judul. Jika Dino Crisis kembali, ia perlu mengikuti rencana yang sama dengan Resident Evil, tidak hanya untuk meningkatkan pengalaman survival horror, tetapi juga untuk merampingkan mekanik melalui perubahan genre yang inovatif.
Reaksi AWverse
Karya-karya lama yang di-reboot dengan konsep baru selalu menjadi daya tarik tersendiri untuk kita. Kayaknya bakal seru banget melihat StarCraft bertransformasi jadi RPG atau Dino Crisis yang membawa pengalaman horor dengan sudut pandang baru. Semoga aja studio-studio ini bisa terus berinovasi dan menghadirkan yang terbaik dari setiap franchise mereka, supaya kita semua bisa merasakan nostalgia dengan nuansa segar!

