Bisa dibilang, saat ini kita udah kebiasaan banget melihat adaptasi komik di layar lebar. Tapi, terkadang kita lupa bahwa prosesnya itu nggak semudah yang dibayangkan. Banyak elemen dari komik yang harus dikorbankan saat diadaptasi menjadi film, dan seringkali hal ini diakibatkan oleh waktu tayang yang terbatas. Makanya, beberapa karakter dan alur cerita bisa terabaikan, adegan aksi dipotong, dan banyak elemen yang diubah agar lebih cocok di film. Ini terjadi bahkan di film adaptasi komik yang paling terkenal sekalipun. Nah, salah satu film yang muncul 16 tahun lalu dan sekarang jadi klasik adalah Scott Pilgrim vs. The World.
Film ini sukses di pasaran meski awalnya kurang mendapat sambutan di box office. Namun, adaptasi ini juga harus membuat beberapa perubahan besar, terutama di bagian akhir ceritanya yang berbeda dari versi komiknya.
Akhir Film Scott Pilgrim Jauh Berbeda dari Komiknya
Serial novel grafis Scott Pilgrim karya Bryan Lee O’Malley terbit dari tahun 2004 hingga 2010. Adaptasi filmnya sendiri mulai diproduksi pada 2009, bahkan diputar perdana di San Diego Comic-Con hanya beberapa hari setelah komik terakhir dirilis. Ini jadi salah satu alasan mengapa ending film sangat berbeda dari yang ada di komik.
Dalam film, Scott yang diperankan oleh Michael Cera mengalahkan Gideon dengan bantuan Ramona dan Knives. Dia kemudian bersahabat dengan Nega-Scott dan mendapatkan akhir bahagia bersama Ramona. Berbeda dengan versi komiknya, Gideon malah membunuh Ramona sebelum pertarungan antara Scott dan Gideon di pikiran Ramona. Di komik, Ramona mengorbankan tas subspace-nya untuk membawa mereka kembali ke dunia nyata, di mana dia dan Scott bersama-sama mengalahkan Gideon. Scott juga rujuk kembali dengan Envy Adams di komik, yang tidak terjadi di film. Beberapa elemen lainnya, seperti mantan Gideon dan senjata psikik yang dikenal sebagai Glow, juga tidak ada dalam film.
Banyak Perubahan Lain dalam Cerita Scott Pilgrim

Perubahan di ending bukan satu-satunya yang mengubah alur cerita. Cerita Nega-Scott lebih dikembangkan di komik, bukan sekadar lelucon ringan di film. Waktu yang berlalu juga berbeda, di mana di komik prosesnya berlangsung lebih dari setahun, sementara di film hanya beberapa minggu. Hal ini membuat hubungan Scott dan Ramona lebih kuat di komik.
Di akhir komik, Stephen Stills mengakui orientasi seksualnya, yang nggak ditampilkan di film. Karakter Katayanagi Twins juga lebih aktif berinteraksi dengan Scott di komik, termasuk mengganggunya. Ada subplot di mana Sex Bob-Omb merekam album dan Scott bekerja sebagai pencuci piring, sementara Ramona lebih terbuka dalam berkomunikasi dan menunjukkan kasih sayang terhadap Scott. Semua perubahan ini dijadikan fokus supaya durasi film lebih terarah kepada mantan-mantan dan cerita yang dianggap lebih penting.
Dua Ending Alternatif Scott Pilgrim yang Kurang Memuaskan

Selain ending yang berbeda, ada juga dua ending alternatif yang sempat direncanakan. Ending yang awalnya mau ditayangkan, memperlihatkan Scott bersama Knives. Di sini, dia dan Ramona saling memandang sebelum Scott mencium Knives dan pergi bersamanya. Namun, audiens tidak terlalu suka dengan ending ini. Akhirnya, karena di komik terakhir Scott tetap bersama Ramona, ending pun diubah untuk mencocokkan itu.
Ending alternatif lainnya terlalu aneh untuk dipakai. Itu tidak pernah difilmkan, dan mengungkapkan bahwa semua yang terjadi adalah imajinasi Scott. Sebuah laporan berita mengabarkan bahwa seorang pria melancarkan aksi pembunuhan terhadap tujuh mantan Ramona, menyebarkan koin di sekitar jasad mereka dan dijuluki “Coin Killer.” Konsep liar ini muncul dari pikiran sutradara Edgar Wright, dan kayaknya beruntung banget kalau jadi tidak terpakai.
Kalau mau nonton Scott Pilgrim vs. the World, film ini bisa disewa atau dibeli di Prime Video, jadi kamu bisa lihat ending yang dipilih oleh para pembuatnya.
Opini Kita
Kayaknya seru banget deh kalau film ini beneran dapat lanjutan atau project baru! Banyak elemen dari komiknya yang bisa eksplor lebih jauh, terutama hubungan antar karakter yang lebih mendalam. Semoga aja studio nggak ngulangin kesalahan yang sama di adaptasi berikutnya!

