Produksi film Indonesia baru saja dapat angin segar! Fauzan Zidni resmi terpilih sebagai ketua Badan Film Indonesia (BPI) untuk masa jabatan empat tahun ke depan. Yang bikin makin menarik, BPI siap membuat debut di kancah internasional dengan menghadiri Festival Film Cannes pada bulan Mei mendatang!
Zidni, yang dikenal sebagai produser di Cinesurya dan sebelumnya memimpin produksi orisinal di The Walt Disney Company Indonesia, nggak sendirian. Dia juga mengangkat Nazira C. Noer sebagai sekretaris jenderal dan Yulia Evina Bhara sebagai kepala kerjasama internasional. Ketiga kepala ini tentu bakal membawa semangat baru ke Cannes 2026.
Dalam pernyataannya, Zidni mengungkapkan, “Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mencatatkan peningkatan jumlah penonton bioskop sejak pandemi. Dengan film lokal yang diprediksi menyumbang 67% pangsa pasar pada tahun 2025, saatnya membangun ekosistem yang sejajar dengan momentum ini. Kami fokus untuk memperluas akses film Indonesia ke pasar global lewat festival strategis dan co-productions internasional.”
Menanggapi pelantikan Zidni, Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, mengatakan, “BPI memegang posisi penting sebagai jembatan antara pemerintah dan industri film. Kami harap BPI bisa semakin menguatkan ekosistem film Indonesia, mempromosikan tata kelola yang transparan, dan membuka peluang lebih luas bagi talenta kreatif di seluruh Indonesia.”
Zidni juga menambahkan, “Kami aktif mencari mitra internasional – baik studio, distributor, atau programmer festival – yang ingin bekerja sama, mendanai, dan mempersembahkan cerita-cerita dari wilayah ini ke dunia.” Semangat yang luar biasa untuk membawa film Indonesia lebih dikenal secara global!
Nama Zidni sudah tidak asing dalam industri film. Dia terlibat dalam produksi “This City Is a Battlefield,” yang tayang di Festival Film Internasional Rotterdam tahun 2025, serta “Marlina the Murderer in Four Acts,” yang diputar di Directors’ Fortnight di Cannes tahun 2017 sebagai perwakilan Indonesia di Academy Awards. Tak hanya itu, dia juga memproduksi “What They Don’t Talk About When They Talk About Love,” yang debut di Sundance 2013. Antara tahun 2022 dan 2024, Zidni menjabat sebagai kepala produksi orisinal di The Walt Disney Company Indonesia dan timnya terlibat dalam 12 serial orisinal dan 10 proyek pengembangan.
Nazira C. Noer bukan orang baru di dunia pemasaran film. Dia adalah CEO dan salah satu pendiri Poplicist, sebuah perusahaan pemasaran dan publikasi yang setiap tahunnya menangani sekitar 40 hingga 50 judul film lokal dari total katalog yang mencakup sekitar 200, seperti “Jumbo,” “Agak Laen,” “Pengabdi Setan 2,” dan “Gundala.” Selain itu, ia juga menjabat sebagai chief marketing officer di Navvaros Entertainment dan telah memimpin komite hubungan masyarakat di Festival Film Indonesia selama tujuh tahun.
Sementara itu, Yulia Evina Bhara yang berkarir sebagai produser di Kawankawan Media, terpilih sebagai salah satu wanita internasional paling berpengaruh di tahun 2023 menurut Variety. Di tahun 2025, dia menjadi anggota juri di Critics’ Week di Cannes dan Festival Film Internasional Busan yang ke-30. Beberapa proyeknya yang mencolok termasuk “Autobiography,” yang menjadi perwakilan Indonesia untuk Oscar dari Venice 2022, “Tiger Stripes” yang meraih Grand Prize di Cannes Critics’ Week 2023, dan “Renoir” yang bersaing di Cannes 2025.
Badan Film Indonesia (BPI) sendiri didirikan pada tahun 2014 berdasarkan undang-undang film Indonesia. Institusi independen ini bertugas memberikan saran kepada pemerintah tentang kebijakan film, memfasilitasi co-productions internasional, dan mewakili industri film Indonesia di festival-festival dunia. Dengan pemimpin baru dan visi yang segar, kita tunggu saja gebrakan BPI di dunia perfilman internasional!





