Setiap kali sebuah show mengakhiri perjalanan dengan cara yang baik, selalu terasa menyenangkan. Itulah yang terjadi dengan Poker Face, karya Rian Johnson. Meski dibatalkan, show ini sebenarnya sudah direncanakan hanya untuk dua musim—terutama bagi Charlie Cale, detektor kebohongan manusia yang diperankan oleh Natasha Lyonne. Ada banyak pesona di Poker Face ketika tampil di puncaknya. Mirip dengan film Knives Out, ini adalah misteri pembunuhan yang stylish dan penuh humor yang menggelitik sifat kemanusiaan. Dan, sama seperti Knives Out, show ini berfungsi optimal ketika tokoh utama berkolaborasi dengan orang lain untuk memecahkan misteri.
Karakter Cale sangat lovable, dihidupkan dengan cara yang unik oleh Lyonne sehingga sulit membayangkan show ini tanpa fokus utama padanya. Meski ada pembicaraan tentang kemungkinan kembalinya show dengan Peter Dinklage sebagai penampil utama, kenyataannya itu semakin tidak mungkin seiring berjalannya waktu. Namun, bahkan jika hal itu tidak pernah terjadi, kita selalu bisa mengenang 22 petualangan Cale. Meskipun, seperti yang akan dibahas, tidak semua petualangan sama kualitasnya. Tidak sama sekali.
22) “The Taste of Human Blood” (S2 Ep4)
Poker Face sejatinya adalah sebuah comedy show, tapi menghadirkan buaya yang kecanduan meth terasa terlalu berlebihan. Meski begitu, episode “The Taste of Human Blood” ini memang dipenuhi dengan karakter yang berat sebelah dan membingungkan. Karakter Fran Lamont (diperankan oleh Gaby Hoffmann) dan “Gator Joe” Pilson (Kumail Nanjiani) benar-benar tidak disukai. Dan alur cerita di mana Charlie berada di lokasi pembunuhan saat acara penghargaan polisi terasa sangat konyol. Dia seharusnya segera pergi begitu melihat ruangan penuh polisi, tapi malah terjebak di sana.
Di episode “Rest in Metal,” pembunuhan dilakukan oleh sekelompok band yang tidak terlalu menarik. Mereka seharusnya mencari cara untuk mengambil kembali popularitas mereka, malah mengelectrocut pemb drummer baru mereka yang mengklaim menulis lagu. Ironisnya, mereka bisa saja memperkenalkan si drummer sebagai anggota baru band mereka dan memulai fase karier baru, tetapi kisah klise ini justru membuat penonton meragukan kualitas cerita.
20) “The End of the Road” (S2 Ep12)
Beberapa orang sangat suka dengan finale dua bagian di Musim 2 yang berujung menjadi finale series. Berbicara tentang karakter Alex (Patti Harrison), tidak adil jika mengatakan bahwa mudah untuk mengetahui bahwa ia adalah antagonis di awal cerita. Namun, pengungkapan ini terasa sangat mengecewakan bahkan bisa dibilang sebagai pengkhianatan terhadap penonton. Benarkah Alex hanya melatih dirinya untuk berbohong terlalu baik agar Charlie tidak dapat menangkapnya? Ini bukan hanya tentang suspensi ketidakpercayaan, tetapi juga menunjukkan bahwa show ini meruntuhkan aturannya sendiri, yang terlalu sulit untuk diterima, terutama untuk show yang sebaik ini.
19) “Day of the Iguana” (S2 Ep11)
“The End of the Road” menjadi episode terburuk dari dua bagian finale, tetapi “The Day of the Iguana” juga tidak jauh lebih baik. Bahkan Justin Theroux yang biasanya sangat baik pun tidak bisa bersinar di sini. Meski alat yang digunakannya untuk menguras darah korban sangat keren, ini tetap menjadi akhir yang sangat mengecewakan bagi para penggemar.
18) “Last Looks” (S2 Ep2)
“Last Looks” mendapat nilai plus karena membuat Cale terasa dalam bahaya dan memberikan Katie Holmes salah satu peran terbaik dalam karirnya, meskipun episode ini terasa cepat berlalu. Dan tentang Holmes, dia terasa kurang dimanfaatkan di episode ini. Giancarlo Esposito memang menjadi villain yang baik, namun karakternya terlalu stereotipikal sehingga hasilnya episode ini tidak sepenuhnya mencerminkan keunikan Poker Face.
17) “The Big Pump” (S2 Ep10)
Pembunuhan yang terjadi di “The Big Pump” disebabkan oleh seorang inspektur kesehatan yang tertangkap pedagang makannya menjual susu payudara curian kepada pelanggan. Ini adalah kejahatan yang tergolong aneh untuk menjadi dasar dari sebuah episode. Namun, episode ini punya kelebihan tersendiri dengan kemitraan Cale bersama Alex yang terasa sangat menyenangkan, ditambah lagi Jason Ritter yang tampil sangat menarik sebagai inspektur kesehatan.
16) “Exit Stage Death” (S1 Ep6)
Masalah besar di “Exit Stage Death” adalah kita diminta percaya bahwa Michael Graves (Tim Meadows) dan Kathleen Townsend (Ellen Barkin) telah saling membenci di publik selama bertahun-tahun, tetapi diam-diam saling mencintai. Kenapa harus menyembunyikannya? Rencana apa yang ada di balik itu semua?
15) “The Future of the Sport” (S1 Ep7)
“The Future of the Sport” di Musim 1 sangat baik dalam menjebak penonton, membuat mereka berpikir satu orang adalah villain, padahal korban yang dimaksud sebenarnya jauh lebih buruk. Taktik yang meyakinkan dari Charles Melton serta persahabatan lucu antara Cale dan ibu dari karakter Melton menjadikan episode ini menyenangkan, meski berakhir dengan kurang memuaskan.
14) “Hometown Hero” (S2 Ep5)
Sejak Scary Movie 3, Simon Rex telah diakui sebagai bakat alami di layar. Di episode “Hometown Hero,” dia tampil sangat baik sebagai villain, meskipun keseluruhan episode ini cukup rata-rata. Plot pemerasan yang sederhana diselesaikan ketika Charlie langsung menanyakan kepada pelaku apakah dia yang melakukannya. Dan adegan jatuh (yang terlihat di atas) terasa cukup konyol untuk menimbulkan keraguan apakah Hollywood benar-benar memahami tentang narkoba.
13) “The Hook” (S1 Ep10)
Final Musim 1 jauh lebih baik daripada akhir Musim 2. Meskipun begitu, “The Hook” masih menjadi cara yang pas untuk menyelesaikan jalan cerita musim itu. Momen di mana villain musiman akhirnya mengampuni antagonis sebelum langsung dibunuh, memberi nilai pada episode ini.
12) “Dead Man’s Hand” (S1 Ep1)
Poker Face harus memulai dengan sesuatu, dan memulai dengan pembunuhan yang dekat dengan Cale adalah langkah yang tepat. Kita bisa memahami siapa Cale, bagaimana dia bereaksi saat kehilangan seseorang yang dicintainya, dan bagaimana ancaman besar ditetapkan.
11) “The Sleazy Georgian” (S2 Ep8)
“The Sleazy Georgian” menjadi favorit di beberapa rumah penggemar Poker Face, walaupun tetap terasa overrated. Karakter penipu yang diperankan John Cho terasa sangat jahat hingga mudah diprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
10) “Sloppy Joseph” (S2 Ep6)
Karakter anak-anak yang menjadi villain di “Sloppy Joseph” terkesan berani, dan Eva Jade Halford berhasil memerankannya dengan baik. Namun, penampilan terbaik berasal dari David Krumholtz sebagai ayah yang berduka. Kemampuan aktingnya membuat kita benar-benar merasakan kedalaman emosional di balik karakternya.
9) “The Night Shift” (S1 Ep2)
Episode kedua ini menghadirkan setting yang intim—hanya terdiri dari Subway, bengkel mobil, dan toko serba ada. Penggambaran karakter terasa sangat manusiawi dalam konteks kota kecil.
8) “The Stall” (S1 Ep3)
Dengan “The Stall,” penonton disuguhkan kejahatan yang kompleks, serta karakter pendukung yang kuat. Cerita ini terasa intim yet relatable, berkat pilihan casting yang menarik.
7) “Whack-A-Mole” (S2 Ep3)
Setelah kehitaman di “Last Looks,” Poker Face menyuguhkan episode yang lebih ceria dengan “Whack-A-Mole.” Dinamika antara Cale dan Beatrix Hasp (Rhea Perlman) sangat menarik.
6) “A New Lease on Death” (S2 Ep9)
Episode ini mungkin underrated. Amelia Peek yang diperankan Alia Shawkat menjadi karakter villain yang mengejutkan, menambah ketegangan pada ceritanya.
5) “Time of the Monkey” (S1 Ep5)
Kita memasuki wilayah terbaik Poker Face. Episode ini menampilkan twist yang mengejutkan, dengan dua karakter tua yang ternyata terlibat dalam aksi terorisme. Momen ketika mereka membunuh seorang teman lama sangat mendebarkan.
4) “The Game Is a Foot” (S2 Ep1)
Cynthia Erivo tampil luar biasa dengan memainkan beberapa karakter dalam episode ini, dan pembuka di Season 2 ini sangat solid. Kolaborasi Cale dengan Delia adalah salah satu yang paling mengesankan.
3) “One Last Job” (S2 Ep7)
Episode ini penuh nuansa meta, mirip dengan film pencurian klasik. Banyak penonton terikat pada chemistry antara Cale dan Bill, yang membuat saat perpisahan terasa sangat menyentuh.
2) “Escape from S**t Mountain” (S1 Ep9)
Doppelganger di Poker Face Season 1 menciptakan kepingan yang sempurna. Dalam episode ini, fokus pada karakter yang disulap oleh Joseph Gordon-Levitt terasa mendebarkan.
1) “The Orpheus Syndrome” (S1 Ep8)
Episode yang disutradarai oleh Lyonne ini adalah puncak dari season ini. Alur cerita misteri yang menarik dan penggambaran karakter Arthur Liptin yang dimainkan oleh Nick Nolte menunjukkan kedalaman emosional yang luar biasa.
Kemitraan Cale dengan Liptin terasa sangat organik, menjadikan hubungan mereka salah satu yang paling berkesan dalam seluruh perselisihan karakter. Dengan penggambaran antagonis oleh Cherry Jones, “The Orpheus Syndrome” adalah Poker Face di titik puncaknya.





